Review Film Hujan Bulan Juni
Nikmati Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono dalam Film Hujan Bulan Juni
Judul Film : Hujan Bulan Juni
Produser : Chand Parwez Servia, Avesina Soebli
Sutradara : Hestu Saputra, Reni Nurcahyo
Penulis Skenario : Titien Wattinema, (berdasarkan novel) Sapardji Djoko Darmono
Aktor : Velove Vexia, Adipati Dolken, Baim Wong, Surya Saputra, Koutaro Kakimoto
Tanggal Rilis : 2 November 2017
Durasi : 96 menit
Film ini diadaptasi dari Novel Sapardi Djoko Damono berjudul Hujan Bulan Juni. Dikisahkanlah seorang gadis campuran Jawa Manado bernama Pinkan dan pemuda Solo bernama Sarwono. Sekelumit cerita tersaji apik dalam film ini. Kamu akan temukan kenyamanan di dalamnya dengan syarat menyimak setiap dialog dan kata-kata dengan tenang.
Pinkan, yang diperankan oleh Velove Vexia merupakan dosen muda Sastra Jepang di UI. Ia seorang perempuan cantik yang ramah. Senyumannya yang riang mampu menggelitik sampai ke hati.
Sarwono yang diperankan oleh Adipati Dolken adalah dosen Antropologi di universitas yang sama dengan Pinkan. Lelaki itu lebih dari sekadar pemuda jadul. Ia adalah pria kuno yang romantis bersama puisi-puisinya. Dengan segala hal yang ada dan tidak ada pada dirinya mampu membuat Pinkan menetap lama tanpa tuntutan apa-apa.
Pinkan dan Sarwono telah lama menjalin hubungan tanpa status. Mereka terlanjur nyaman dalam ruangan kedap suara yang diberi nama 'kasih sayang' oleh Sarwono. Hubungan mereka kerap pula mengendapkan rasa cemburu. Namun, cemburu yang sulit untuk diartikan. Masing-masing dari mereka punya cara sendiri mengatasi rasa itu.
Seperti halnya cemburu, rindu pun hidup di hati Pinkan dan Sarwono. Segalanya meluap dalam kata-kata. Keduanya terikat di sela-sela huruf sajak cinta Sapardi Djoko Damono yang disuarakan Sarwono dalam film ini.
Suatu hari Pinkan mendapatkan kesempatan untuk belajar selama 2 tahun di Jepang. Tentu saja gadis itu menerima dengan senang hati. Bagaimana dengan Sarwono? Ia mendukung Pinkan untuk perjalanan itu. Hatinya tidak mungkin tidak resah. Pinkan akan menjalani 2 tahunnya bersama Katsuo, laki-laki jepang yang menjadi pendamping studinya.
Sarwono khawatir kekasihnya akan menjadi ronin yang berkhianat. Pinkan pernah menjadi orang yang sangat mengagumi Katsuo saat lelaki itu menyelesaikan pasca sarjana di UI. Bukan tidak mungkin kenyamanannya akan beralih pada Katsuo selama di Jepang.
Akan tetapi, Pinkan bukan ronin. Pinkan adalah sakura yang tak pernah berkhianat. Ia hanya mencintai Sarwono. Sekalipun ia tahu, Sarwono bukan Manado yang akan menjanjikan kehidupan lebih baik seperti Pak Tumbelaka yang mereka temui saat Pinkan menjadi asisten Sarwono saat menjalankan tugas kampus ke Manado. Sarwono bukan Beni, sepupunya (anak angkat tante Heni) yang tampan rupawan, seorang yang berhasil dipatahkan Sarwono pada perjalanan mereka ke Gorontalo. Sarwono bukan Katsuo, lelaki Jepang yang pernah ia kagumi bahkan mendekati sempurna baginya. Sarwono juga bukan Matindas dengan segala kisah cintanya yang rumit bersama putri Pinkan yang cantik. Pinkan tidak pernah mengharapkan Sarwono untuk menjadi semua itu. Pinkan mencintai lelaki itu karena ia adalah Sarwono, pria jadul yang membersamainya terperangkap dalam ruang kedap suara bernama kasih sayang.
Mereka menikmati hubungan ini, meskipun dikepung perbedaan-perbedaan yang sangat mereka sadari. Kenyataannya, puisi-puisi Sawono memiliki kehidupannya sendiri. Puisi-puisi itu telah menemukan muaranya, yaitu Pinkan. Lalu, bagaimana dengan perbedaan? Dalam cinta siapa yang peduli. Seperti dalam sajak kecil sarwono tentang cinta, satu dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono.
"Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma aku"

Komentar
Posting Komentar