Intimasi Novel dengan Pembaca Fanatik

Intimasi Novel dengan Pembaca Fanatik
Oleh: Junilawata Resdia

Repost 09 Juli 2013

Sejak tahun 1920-an (pada angkatan Balai Pustaka) novel sudah berkiprah di Indonesia. Tahun tersebut dikenal sebagai tahun lahirnya kesusatraan nasional dengan ditandai munculnya novel Siti Nurbaya karangan Marah Rusli, Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, Sengsara Membawa Nikmat, dll.
Sastra Indonesia terus berkembang. Pada angkatan Pujangga Baru muncul novel Layar Terkembang karya Sultan Takdir Alisyahbana. Kemudian menjelang kemerdekaan lahir novel karangan Armiyn Pane berjudul Belenggu yang hingga saat ini lazim dikatakan sebagai tonggak munculnya novel modern di Indonesia. Tahun 1968 hadir novel berjudul Merahnya Merah, garapan Iwan Simatupang. Setelah itu, pada era selanjutnya muncul novel-novel karangan Marga. T, Mira. W, La Rose, sampai masa sekarang terkenal dengan novel-novel buah karya Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, Ahmad Fuadi, Taufiqurrahaman Al-Azizy, dsb, yang membangkitkan gairah novel pada diri pembaca.
Pembaca setia novel selalu mengikuti perkembangan novel dengan antusias. Para pembaca kerap menganalisa dan membandingkan novel Indonesia di masa lalu dengan novel sekarang yang lebih spesifik dengan berbagai tema mulai dari perempuan, seks, sains, sejarah, agama, spiritual, sosial, moral, etnis, hingga politik sesuai dengan perkembangan zaman dan pemikiran masyarakat. Dari itu mereka berhak menentukan arah pilihan terhadap aliran dan jenis novel.
Bagi pembaca fanatik novel bukan lagi hanya bacaan santai atau pengisi waktu luang. Novel dijadikan suatu kebutuhan rohani yang diperlakukan bagai kitab suci dan dimanjakan secara berlebihan dan tidak wajar. Mereka menempatkan fungsi novel selayaknya alat pemuas diri dalam urusan imajinasi, hasrat misteri,  horror, romantika, dsb. Manusia selaku pembaca bahkan membaca novel sebagai referensi untuk menjalankan hidup dan kariernya.
Selain hal-hal tersebut, pembaca juga mengeksploitasi diri dengan novel yang memberi motivasi dan inspirasi. Perjalanan hidup tokoh dalam novel dianggap pendorong semagat pembaca untuk mencapai kemajuan. Bahasa, ide cerita, dan pengalaman sang tokoh pun menantang kreatifitas pembaca. Seperti beberapa novel yang mengangkat cerita bertemakan pendidikan, perjuangan, keluarga, dan sosial.
Tahun-tahun belakangan ini, novelis-novelis Indonesia telah melahirkan karya-karya berkualitas yang meningkatkan fanatisme dan keintiman pembaca Indonesia dengan novel. Hal ini memberikan dampak positif pada masyarakat khususnya pembaca. Seperti tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang mengisahkan tentang persahabatan, sosial, dan bagaimana masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah meraih pendidikan dan mimpi-mimpinya. Fanatisme terhadap novel tersebut membuat masyarakat atau pembaca tertarik membangun persahabatan yang unik seperti Laskar Pelangi dan pantang menyerah demi meraih pendidikan dan mimpi-mimpinya seperti anak-anak dalam novel itu. Demikian pula yang terjadi pada pembaca fanatik trilogy Negeri 5 Menara hasil tulisan Ahmad Fuadi, yang bercerita tentang pendidikan, kegigihan, semangat, pantang menyerah, dan keberanian mengambil keputusan, menjadi pegangan bagi pembaca tentang manjadda wajada dan man shabara zhafira untuk mencapai kesuksesan serta mengamalkan pesan yang terkandung di dalamnya “jika ingin sukses, maka berusahalah di atas rata-rata orang kebanyakan”. Selain itu, kisah yang diuraikan dalam trilogy ini juga merangsang kreatifitas pembaca di bidang tulis menulis. Fanatisme pada novel mega best seller psikologi islami yang berjudul Kuhapus Nama-Mu dengan Nama-Nya karya Taufiqurrahman Al-Azizy, membuat pembaca menyadari jika menuruti hawa nafsu maka kita akan masuk ke dalam lubang kesesatan dan berjalan di atas jalan yang tidak diridai-Nya serta kerugian dan kesengsaraan akan terjadi pada diri sendiri. Begitu pula fanatisme pembaca terhadap novel-novel Habiburrahman El Shirazy dan yang lainnya.
Novel juga sering membuat pembaca sanggup meramalkan jalan cerita dan akhir perjalanan sang tokoh. Umumnya pembaca novel sangup bertindak sebagai literator dalam mengkritisi dan merefleksi karya-karya novelis tersebut. Karena kefanatikan, kekecewaan bisa merubungi hati pembaca jika mendengar pernyataan orang lain yang mengklaim bahwa novel merupakan bacaan yang tidak bermutu dibanding buku-buku non fiksi atau ketika novel yang mereka sukai dianggap sebagai plagiat. Jadi, pembaca novel fanatik juga mempunyai kebiasaan dan sifat-sifat yang unik.
Pembaca fanatik biasanya larut dalam kisah yang disajikan oleh pengarang. Pembaca tersebut terlalu sensitif terhadap keahlian pengarang menguraikan kronologi cerita sehingga imajinasinya melalar tembusi perjalanan sang tokoh. Karena itu, pembaca kerap melakukan identifikasi diri atau malah menciptakan kisah sesuai dengan novel.
Fanatisme itu terkadang mendorong pembaca untuk menuruti keinginan untuk menjadi kolektor novel dan membaca penuh penghayatan tanpa membiarkan gangguan masuk dari manapun dan siapapun. Mereka menata dan menyimpan novel dengan perlakuan manja. Pembaca-pembaca fanatik tidak jarang menghafal detail peristiwa dan nama tokoh beserta karakternya dan mencatat kalimat-kalimat yang diperlukan sebagai pegangan untuk diaplikasikan dalam hidup. Dari perilaku-perilaku pembaca tersebut, intimasi novel dengan pembaca fanatik tidak terlepas dari berahi pembaca dalam menggauli kisah-kisah yang terdapat dalam novel serta sikap mendewakan atau memuja pengarang layaknya selebritas papan atas.
Intimasi novel dengan pembaca fanatik Indonesia ini ikut berpengaruh menentukan nasib novel dalam negeri bersaing dengan popularitas novel-novel dunia dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Origami Hati - Boy Candra

Review Buku Yang Menunggu dengan Payung - Zelfeni Wimra

Review Novel Hujan - Tere Liye (Perjalanan Masa Depan dalam Sastra)