Review Buku Yang Menunggu dengan Payung - Zelfeni Wimra

Dimabukkan Ramuan Kata Yang Menunggu Dengan Payung


Judul                  : Yang Menunggu dengan Payung
Penulis                   : Zelfeni Wimra
Penerbit                 : PT Gramedia Pustaka Utama 
Kota Terbit             : Jakarta
Tahun Terbit          : 2013
Jumlah Halaman  : vii + 148 Halaman
ISBN.                       : 978-979-22-9395-1

"Jalan lurus itu seakan selalu hujan. Sekalipun tidak berasal dari pecahan mendung, tetapi air terjun yang memerciki daun-daun beringin dari lereng bukit itu akan selalu menyebabkan gerimis bertaburan. Lihatlah rumput-rumput selalu basah dibuatnya. Batu-batu yang tertata di pinggirnya sudah berlumut dalam pori-pori siapa saja seketika meremang bila sedang melintas di sana." Yang Menunggu dengan Payung. 

    Review kali ini tentang buku kumpulan cerpen yang ceritanya kudapatkan dari seorang pelatih vokal grup di kampusku. Katanya, dia berkawan dengan seorang penulis hebat asal SUMBAR, penulis itu memiliki kemampuan mengolah kata-kata dengan sangat baik. Aku yang memang meminati sastra, penasaran dengan buku yang dimaksud. 
   Demi mengobati rasa penasaran itu, kuupayakan sedapat mungkin untuk memiliki. Sayangnya, kehidupanku yang masih terkungkung di daerah kecil mematahkan. Di kampungku tidak kutemukan Gramedia. Akhirnya, untuk membeli buku seharga 38.000 itupun aku harus menitip pada kawan yang sedang berstudi di Padang. 

    Membaca halaman demi halaman buku kumpulan cerpen berjudul Yang Menunggu dengan Payung karya Zelfeni Wimra, menyergapku ke dalam ruang-ruang kata yang telah diramu demikian apik. Jiwaku seakan larut sembari menyusuri air hidup yang mengalir dalam sungai diksi. Cerita-cerita yang sebetulnya juga kita rasai dalam kehidupan yang sesungguhnya justeru disuguhkan umpama dongeng. Nyata, namun diimpikan. 
     Sejak 2013, tepat saat hari pertama buku ini berada di tanganku sudah berulang kali pula lembarannya kusentuh untuk menyicil helainnya. Menariknya, seberapa kali kubaca, seberkali-kali itu pula aku ditusuknya. Tusukan-tusukan yang tak kuselali itu bukannya membuat jera, tetapi membangkitkan hasrat untuk meramu pula kalimat-kalimat serupa meski tetap tak sama.
        Demi perempuan dan segala makhluk yang telah atau akan menjadi ibu. Sebelum membaca kisah-kisah yang menggenang dalam buku ini, kalimat itu akan menyambut pembaca pertama kali. Seolah penulis memang meletakkan perempuan pada anjungan yang tinggi. Karya-karyanya hampir tak lepas dari perempuan sebagai objek. Di dalam buku ini juga demikian, 17 judul yang didominasi setting Sumatera Barat berhasil dihadiahkan untuk kaum hawa. Berikut judul-judul yang terhimpun dalam antologi "Yang Menunggu dalam Payung" memabukkan pembaca dengan ramuan kata-kata. 

1. Tabung Cahaya
2. Sunat
3. Toga buat Su'aidi
4. Bida Dari Bukit Barisan
5. Suara Serak di Seberang Radio
6. Lesung Pipi Pauh
7. Yang Merenggut Dada Kirinya
8. Layang-Layang Bulan
9. Nasi Dingin
10. Terminal Dua Kepulangan
11. Di atas Dipan Penantian
12. Ketupat
13. Bini Perantau
14. Tali Jantung Tuti
15. Tiga Episode Bangkai
16. Puisi Makam Penghabisan
17. Yang Menunggu dengan Payung

Kalau kamu, yang mana cerpen Zelfeni Wimra favoritmu? 

Baca juga review lainnya di Junila WR Review

By. Junila WR

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Novel Origami Hati - Boy Candra

Review Novel Hujan - Tere Liye (Perjalanan Masa Depan dalam Sastra)